Kebijaksanaan

kebijaksanaan

Source : Pinterest

Kebijaksanaan adalah tongkat yang hilang bagi seorang mukmin. Dia harus mengambilnya dari siapa saja yag didengarnya, tidak peduli dari sumber mana datangnya” (HR. Ibnu Hibban)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) kebijaksanaan adalah kepandaian dalam menggunakan akal budinya (pengalaman dan pengetahuan). Sadar atau tidak memang, usia dan banyaknya pengalaman akan membuat kita lebih bijak. Tidak tergesa-gesa, dan lebih menghargai orang lain, lalu tenang dalam bersikap.

Baca lebih lanjut

Iklan

Sekolah Islam ; Eksistensi atau (?)

Jadi ceritanya, Jum’at pekan lalu saya diminta untuk menemani seorang kakak untuk mengisi kajian Jum’at di salah satu sekolah islam bergengsi dan terkenal di Kota Daeng ini. Bangunan sekolahnya besar sekali teman-teman, sudah seperti universitas menurut saya. Seperti sekolah-sekolah di drama Korea yang saya lihat. Tapi, fakta apa yang saya lihat di dalam ? Menurut saya, tidak ada beda antara sekolah islam dan sekolah umum. Bedanya ya hanya tampilan siswa-siswinya saja. Tapi hari ini, sekolah umum juga sudah mewajibkan siswi muslimah untuk berhijab bukan ? Baca lebih lanjut

Menyembuhkan Luka

Setiap kita pasti pernah mengalami yang namanya luka. Entah fisik atau bukan. Dengan berbagai alasannya. Dikecewakan oleh seseorang, disakiti, merasa kehidupan sangat sempit,  atau malah kecewa dengan diri sendiri. Luka itu datangnya dari arah yang tak disangka-sangka. Sama seperti rezeki kan.

Jika tangan kita tergores –dan itu termasuk luka- tubuh memiliki trombosit yang akan membantu untuk menutup luka kita dengan benang-benang fibrin. Dan sistem imun tubuh termasuk sek darah putih akan membantu memusnahkan bakteri yang terlanjur masuk menembus kulit. Untuk luka fisik, Allah telah memberi sistem penyembuhan tersendiri. Lalu bagaimana untuk luka yang lainnya ? Baca lebih lanjut

Edisi Curhat

 

Kali ini saya mau curhat benar-benar mau curhat, hehe. Tidak dibacapun tak apa, malahan Alhamdulillah.

Setiap orang punya masalahkan ? Yes. setiap orang pernah merasa hidupnya sungguh kacau kan ? Yes. Dan mungkin itu yang sedang saya rasakan sekarang. Mungkin bagi sebagian orang akan berkata “kamu nggak tawakkal” “it’s okay, asal kamu bersama Allah, pasti ada jalan” Baca lebih lanjut

Dibalik Slogan “Cadarku Otoritasku”

Capture

Slogan “Cadarku Otoritasku” ikut digaungkan oleh para penuntut hak-hak kesetaraan antara pria dan wanita setelah slogan “Tubuhku Otoritasku’ menuai banyak kecaman. Slogan “Cadarku Otoritasku” merupakan bentuk perlawanan terhadap sikap diskriminatif salah satu kampus Islam Negeri di Yogyakarta dan kampus lain yang melarang mahasiswinya menggunakan cadar di lingkungan kampus.

Dari slogan tersebut nampak bahwa kaum feminis sedang mencari pembelaan terhadap apa yang mereka sedang perjuangkan. Atas nama Hak Asasi Manusia dan opini pembelaan terhadap kaum minoritas dijadikan dalih agar hak-hak yang mereka perjuangkan juga ikut disuarakan oleh umat muslim khususnya muslimah. Di negeri-negeri minoritas muslim, kaum feminis serta para pendukung kelompok minoritas lain seperti LGBT turut mendesak umat muslim agar turut serta dalam mendukung persamaan hak. Minoritas harus dilindungi, baik kaum feminis, LGBT dan juga muslim. Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Tujuh

Sebuah Kehilangan

Jam di dinding kamar Rinai menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Dadanya bergemuruh, barusan itu benar-benar mimpi. Bertemu Mbak Titin, namun terasa amat nyata. Rinai terisak, menangis sejadi-sejadinya.

Nek Asih yang belum tidur segera berlari demi melihat apa yang terjadi dengan cucu semata wayangnya itu. Kamar Rinai tidak terkunci, Rinai sedang tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Nek Asih segera naik ke atas ranjang, memeluk Rinai dan mengusap punggung serta puncak kepalanya.

“Rinai, ini nenek Nak, nenek di sini, nenek tidak ke mana-mana ya, jangan takut ada nenek” Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Enam

Sebuah Kehilangan

Bintang gemintang telah bertaburan di langit malam desa. Dua gadis remaja sedang duduk di teras rumah dengan kursi plastik berwarna hijau. Mereka ditemani dua gelas teh khas desa dan beberapa potong gorengan yang dijual di gang sebelah rumah Mbak Titin.

“Bibi ke mana Mbak, dari pagi aku tidak melihatnya”

Rinai mengambil tahu isi dari piring. Malam itu, ia mengenakan celana dan baju tidur milik Mbak Titin, sedikit kebesaran tapi pas dan terasa nyaman.

“Tadi selepas memasak untuk sarapan, ibu ke tempat paman di desa sebelah Rinai” Mbak Titin menatap bintang sambil tersenyum

“Apa sudah kamu pikirkan jawabannya Rinai ?”

“Apa Mbak?”

“Apa kamu sungguh-sungguh tidak percaya tentang Dia yang menciptakan langit ini ?” Rinai terdiam Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Lima

Sebuah Kehilangan

Tujuh belas  tahun yang lalu. Ibu Rinai, Risa, adalah gadis berusia sembilan belas. Lulus sekolah dengan nilai baik. Namun, karena persoalan biaya ia tidak melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Ah sungguh miris, negara ini tak mampu memberi ruang bagi anak bangsa untuk melanjutkan mimpi menjadi generasi yang memiliki ilmu untuk bekal kehidupan ini. Beruntung, Risa memiliki cita-cita yang amat sederhana. Sedari kecil, Nek Asih dan suaminya tidak pernah mengajarkan Risa untuk menghamba pada dunia. Hidup sederhana, bersyukur dan tidak lupa untuk berbagi dengan sesama adalah kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka. Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Empat

Sebuah Kehilangan

Satu jam menjelang senja. Rinai dan Mbak Titin duduk di ayunan sederhana yang terbuat dari kayu dan tali biasa. Tali berwarna merah diikatkan di pohon mangga. Dua ayunan tersebut persis terletak di sudut depan rumah tua namun sangat bersih dan rapi.

“Mbak Titin, kok rumah ini masih sama seperti yang dulu ya, ayunannya juga. Aku kira nenek tidak betul-betul menjualnya” Mbak Titin hanya senyum, tidak menanggapi.

“Ke mana penghuni barunya Mbak ?”

“Mereka pergi berlibur Rinai, ke luar kota, aku masih sering berkunjung ke sini, mereka baik” Mbak Titin merapikan kerudung birunya. Sebenarnya Rinai agak aneh dengan panggilan “Rinai” oleh Mbak Titin. Biasanya ia akan memanggil dengan sebutan “Dek” Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Tiga

Sebuah Kehilangan

Sebelum delapan tahun yang lalu, Rinai selalu ke desa ini. Tempat kakek dan neneknya tinggal, tempat ibunya dibesarkan sebelum merantau ke kota dan akhirnya menikah dengan ayahnya. Setiap libur lebaran, libur akhir tahun, atau sekadar libur akhir pekan. Rinai bahagia sekali jika ibunya telah berkata “Ayuk, kita ke rumah nenek,Rinai, kita menginap di sana”. Bagi Rinai, desa kecil tempat kakek dan neneknya adalah tempat liburan terbaik, bukan luar negeri atau Pulau Bali.

Lalu hari ini, masih diselimuti kebingungan. Rinai bersama Mbak Titin duduk di pinggiran sungai sembari menenggelamkan kakinya. Suasananya masih sama, seperti delapan tahun lalu terakhir dia ke sini, tidak ada yang berubah. Baca lebih lanjut