Edisi Curhat

 

Kali ini saya mau curhat benar-benar mau curhat, hehe. Tidak dibacapun tak apa, malahan Alhamdulillah.

Setiap orang punya masalahkan ? Yes. setiap orang pernah merasa hidupnya sungguh kacau kan ? Yes. Dan mungkin itu yang sedang saya rasakan sekarang. Mungkin bagi sebagian orang akan berkata “kamu nggak tawakkal” “it’s okay, asal kamu bersama Allah, pasti ada jalan” Baca lebih lanjut

Iklan

Dibalik Slogan “Cadarku Otoritasku”

Capture

Slogan “Cadarku Otoritasku” ikut digaungkan oleh para penuntut hak-hak kesetaraan antara pria dan wanita setelah slogan “Tubuhku Otoritasku’ menuai banyak kecaman. Slogan “Cadarku Otoritasku” merupakan bentuk perlawanan terhadap sikap diskriminatif salah satu kampus Islam Negeri di Yogyakarta dan kampus lain yang melarang mahasiswinya menggunakan cadar di lingkungan kampus.

Dari slogan tersebut nampak bahwa kaum feminis sedang mencari pembelaan terhadap apa yang mereka sedang perjuangkan. Atas nama Hak Asasi Manusia dan opini pembelaan terhadap kaum minoritas dijadikan dalih agar hak-hak yang mereka perjuangkan juga ikut disuarakan oleh umat muslim khususnya muslimah. Di negeri-negeri minoritas muslim, kaum feminis serta para pendukung kelompok minoritas lain seperti LGBT turut mendesak umat muslim agar turut serta dalam mendukung persamaan hak. Minoritas harus dilindungi, baik kaum feminis, LGBT dan juga muslim. Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Tujuh

Sebuah Kehilangan

Jam di dinding kamar Rinai menunjukkan pukul 23.00 waktu setempat. Keringat mengalir di sekujur tubuhnya. Dadanya bergemuruh, barusan itu benar-benar mimpi. Bertemu Mbak Titin, namun terasa amat nyata. Rinai terisak, menangis sejadi-sejadinya.

Nek Asih yang belum tidur segera berlari demi melihat apa yang terjadi dengan cucu semata wayangnya itu. Kamar Rinai tidak terkunci, Rinai sedang tertunduk sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Nek Asih segera naik ke atas ranjang, memeluk Rinai dan mengusap punggung serta puncak kepalanya.

“Rinai, ini nenek Nak, nenek di sini, nenek tidak ke mana-mana ya, jangan takut ada nenek” Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Enam

Sebuah Kehilangan

Bintang gemintang telah bertaburan di langit malam desa. Dua gadis remaja sedang duduk di teras rumah dengan kursi plastik berwarna hijau. Mereka ditemani dua gelas teh khas desa dan beberapa potong gorengan yang dijual di gang sebelah rumah Mbak Titin.

“Bibi ke mana Mbak, dari pagi aku tidak melihatnya”

Rinai mengambil tahu isi dari piring. Malam itu, ia mengenakan celana dan baju tidur milik Mbak Titin, sedikit kebesaran tapi pas dan terasa nyaman.

“Tadi selepas memasak untuk sarapan, ibu ke tempat paman di desa sebelah Rinai” Mbak Titin menatap bintang sambil tersenyum

“Apa sudah kamu pikirkan jawabannya Rinai ?”

“Apa Mbak?”

“Apa kamu sungguh-sungguh tidak percaya tentang Dia yang menciptakan langit ini ?” Rinai terdiam Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Lima

Sebuah Kehilangan

Tujuh belas  tahun yang lalu. Ibu Rinai, Risa, adalah gadis berusia sembilan belas. Lulus sekolah dengan nilai baik. Namun, karena persoalan biaya ia tidak melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Ah sungguh miris, negara ini tak mampu memberi ruang bagi anak bangsa untuk melanjutkan mimpi menjadi generasi yang memiliki ilmu untuk bekal kehidupan ini. Beruntung, Risa memiliki cita-cita yang amat sederhana. Sedari kecil, Nek Asih dan suaminya tidak pernah mengajarkan Risa untuk menghamba pada dunia. Hidup sederhana, bersyukur dan tidak lupa untuk berbagi dengan sesama adalah kebahagiaan untuk keluarga kecil mereka. Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Empat

Sebuah Kehilangan

Satu jam menjelang senja. Rinai dan Mbak Titin duduk di ayunan sederhana yang terbuat dari kayu dan tali biasa. Tali berwarna merah diikatkan di pohon mangga. Dua ayunan tersebut persis terletak di sudut depan rumah tua namun sangat bersih dan rapi.

“Mbak Titin, kok rumah ini masih sama seperti yang dulu ya, ayunannya juga. Aku kira nenek tidak betul-betul menjualnya” Mbak Titin hanya senyum, tidak menanggapi.

“Ke mana penghuni barunya Mbak ?”

“Mereka pergi berlibur Rinai, ke luar kota, aku masih sering berkunjung ke sini, mereka baik” Mbak Titin merapikan kerudung birunya. Sebenarnya Rinai agak aneh dengan panggilan “Rinai” oleh Mbak Titin. Biasanya ia akan memanggil dengan sebutan “Dek” Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Tiga

Sebuah Kehilangan

Sebelum delapan tahun yang lalu, Rinai selalu ke desa ini. Tempat kakek dan neneknya tinggal, tempat ibunya dibesarkan sebelum merantau ke kota dan akhirnya menikah dengan ayahnya. Setiap libur lebaran, libur akhir tahun, atau sekadar libur akhir pekan. Rinai bahagia sekali jika ibunya telah berkata “Ayuk, kita ke rumah nenek,Rinai, kita menginap di sana”. Bagi Rinai, desa kecil tempat kakek dan neneknya adalah tempat liburan terbaik, bukan luar negeri atau Pulau Bali.

Lalu hari ini, masih diselimuti kebingungan. Rinai bersama Mbak Titin duduk di pinggiran sungai sembari menenggelamkan kakinya. Suasananya masih sama, seperti delapan tahun lalu terakhir dia ke sini, tidak ada yang berubah. Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Dua

Sebuah Kehilangan

 

Rinai bangun dari tidur panjangnya. Tapi, ada yang aneh. Ini bukan kamarnya. Tidak ada foto ayah dan ibunya. Masih segar sekali dalam ingatannya, semalam, dia tidur sambil memeluk panda, di kamarnya. Kamar bernuansa putih dan ada stiker dinding panda serta pajangan foto-foto dan piagam-piagam penghargaan. Apa dia mimpi ? kamar ini nyata tapi sangat asing. Rinai bangkit, menuju pintu. Bisa jadi ini benar-benar hanya mimpi.

“Loh, Dek Rinai sudah bangun?” mata Rinai menyipit. Dia lupa-lupa ingat, siapa perempuan di depannya saat ini. Senyumnya manis, usianya kira-kira tujuh belas, beda dua tahun darinya. Baca lebih lanjut

Tentang Langit #2

TentangLangit

Hujan baru saja benar-benar selesai mengetuk jendela kamar Langit. Langit masih duduk memandangi layar komputer di atas meja kerjanya. Langit, menyulap kamar tidur yang didominasi warna monokrom itu juga sebagai ruang kerja. Tumpukan buku dan tulisan lettering karya teman-temannya. Tak lupa, foto-foto masa kecilnya, bersama keluarga, dan segala perjalanan hidupnya terpampang di dinding kamarnya. Baginya saat ini, bekerja adalah untuk istirahat. Bekerja adalah kegiatan untuk menghabiskan waktu dan bergerak untuk kemudian istirahat. Jauh berbeda dengan enam tahunnya kemarin yang pernah ia habiskan di sekolah swasta itu. Istirahat adalah untuk bekerja. Sungguh sangat melelahkan. Baca lebih lanjut

Sebuah Kehilangan || Bagian Satu

Sebuah Kehilangan

Rintik kecil telah usai mengiringi cuaca hari itu. Di sebuah kota kecil, di sudut pulau. Langit mulai menampakkan semburat jingga. Cahaya berpendar, di hari senja. Terpaku, anak kecil yang baru berusia lima belas. Duduk di ayunan samping rumah yang mulai sepi. Tidak seramai tadi pagi. Wajahnya sendu, ia kalut, matanya bengkak, bekas aliran air matanya masih ada.

“Langit, kenapa kau tega sekali, setelah ini, apalagi yang akan kau ambil dariku. Tidak cukupkah segala sembahku hari-hari kemarin, kau tega sekali. Sungguh !” Bisiknya dalam hati.

Baca lebih lanjut