(REVIEW) Seribu Masjid Satu Jumlahnya #1

Doa Fakir

Temani hamba wahai Kekasih berkukuh meladeni

Terbatasnya mata hukum kenyataan hari hari ini

 

Sebagian handai tolan tak bisa memandang-Mu

Kecuali seabgai unsur dari gugusan jagat raya

Kesadaran mereka

 

Engkau disangka bagian dari kerangka ruang dan

Waktu, gagasan mereka menganggap-Mu bisa dijerat

Ke dalam konsep kebudayaan yang pulang pergi

Dari semu ke yang semu

 

Kalau hamba menyembah-Mu, kalau hamba menatap

Kehidupan ini dengan mripat-Mu, kalau hamba

Mengucapkan kata-kata dengan bahasa-Mu : di mata

Mereka pekerjaan hamba adalah sebuah dusun

Kecil di tepian sebuah negeri besar yang mereka

Kuasai

 

Mereka menamakan hamba lokal dan primordial,

Karena yang bernama universal ialah apabila hamba

Melarutkan diri kepada tuhan abstrak,

Atau apabila hamba menyembah dan memaknai bahasa

Tuhan-tuhan khayalan mereka

.

.

.

1985

Sajak ini, benar-benar pas dengan kehidpan kita saat ini. Umat muslim, yang benar-benar ingin patuh kepada Tuhannya dengan ketaatan penuh, harus siap-siap dicap teroris, kuno, radikal, pemecah belah, menolak NKRI, anti Pancasila. Yakan ? Baca lebih lanjut

Iklan

(REVIEW) TENTANG KAMU

Kali ini, saya baru selesai membaca novel terbaru Tere Liye. Lagi-lagi saya sangat terkesan dengan novel karya beliau. Saya tipe pemilih memang, kalau urusan beli membeli novel. Jadi, sebelum saya membeli novel ‘Tentang Kamu’ ini, saya membaca reviewnya terlebih dahulu. Dan saya langsung tertarik untuk membacanya. Dilihat dari judulnya, apalagi review di sampul belakangnya, pastilah kita beranggapan bahwa novel ini bercerita tentang kisah cinta dua orang yang bisa berakhir luka atau bahagia. Tapi, siapa sangka novel ini bercerita tentang penyelidikan ahli waris dari kepemilikan saham sebesar 1% di perusahaan multinasional.

Adalah Sri Ningsih, gadis dari desa terpencil di Sumbawa. Ibunya meninggal ketika melahirkan dirinya. Bapak yang sangat ia cintai adalah seorang pelaut, dan meninggal di laut persis saat ia berusia sembilan tahun. Ibu tirinya, yang amat sangat ia sayangi, tidak lagi menjadi ibunya akibat frustasi ditinggal Bapaknya. Di usianya yang 14 rumahnya terbakar bersama ibu tirinya. Kini, dia bersama adik tirinya melanjutkan hidup ke Surakarta. Menjadi santri dan santriwati.

Hidup Sri berubah, dia memiliki dua sahabat yang sangat menyayanginya. Namun, sebuah peristiwa penghianatan, membuat segala sesuatunya menjadi kacau balau. Adik Sri dikabarkan meninggal dalam keadaan mengenaskan. Sri memutuskan pindah ke Jakarta. Akhirnya, ia menjadi pemimpin sebuah perusahaan yang siap menyaingi perusahaan besar besar dunia. Dan perusahaan itu adalah perusahaannya sendiri. Ia bangun dari nol. Baca lebih lanjut

Membaca

Membaca, adalah aktivitas yang paling sering dilakukan manusia. Menurut saya. Apalagi di era gadget seperti hari ini. Bayangkan saja, baru bangun, yang dicari adalah smartphone, iya kan ?

Seseorang yang gemar membaca, dan yang tidak, pasti memiliki perbedaan. Orang yang gemar membaca, akan banyak pengetahuannya. Tentang apapun. Dan tergantung dari hal apa yang dia baca, seberapa bermanfaat atau malah merugikan.

Kalau saya ditanya lebih suka baca buku atau tulisan dalam bentuk file ? Jujur saya lebih suka baca buku, file yang isinya bacaan itu membuat saya pusing dan merasa tidak ada ‘tanggungan’ membaca. Jadi pas masa kuliah, saya lebih sering print materi lalu dicoret-dicoret daripada harus berlama-lama di depan layar untuk membaca. Tapi anehnya, kalau buka gadget berjam-jam betah hahaha.

Setelah peristiwa Tere Liye yang menyatakan tidak akan memproduksi buku lagi atau lebih tepatnya tidak akan mencetak karya-karyanya lagi dalam bentuk sebuah buku, jujur ya saya sedih, dan miris. Oh negeriku. Sudahlah budaya membaca berkurang. Orang yang mumpuni dalam menulis pun harus ‘hengkang’ karena ‘keadilan’. Baca lebih lanjut

(Review) P U L A N G

PULANG, karya Tere Liye yang baru aku baca betul betul membuka mataku, wawasan seorang penulis kondang tersebut sangat dan amat luas. Tiga novelnya sudah kubaca, Negeri Para Bedebah, Negeri di Ujung Tanduk, dan yang baru selesai kubaca, Pulang. Ketiga novel tersebut bercerita tentang dunia hitam yang memang tampak nyata pasti sedang terjadi di dunia ini, tanpa kita tahu.

Kehebatan sebuah buku, tanpa musik pengiring, bahkan penggambaran yang masih di awang-awang meski dijelaskan dengan detail, tetap mampu membuat suasananya tampak nyata. Aku menangis, deg-degan, membaca dengan berbagai posisi, mengerutkan kening, bahkan tertawa sendiri.

Novel ini menggambarkan bahwa. Kita tidak akan pernah tahu, pada titik mana rasa sakit akan menimpa kita.Buku ini menerangkan, bahwa sakit di masa lalu, masa suram, dan masa-masa pilu, bukanlah sesuatu yang harus dibuang, dilupakan, dan tanpa diingat. Kenapa ? Karena pasti ada kalanya, di masa mendatang, masa-masa itu akan terngiang, lalu membuat kita jatuh dan tersungkur kembali. Maka, peluk eratlah masu lalu, menjadi bagian dari dirimu, agar kau utuh menatap masa depan.

Novel ini menyadarkanku, bahwa ikatan apapun itu, meski dibangun bertahun-tahun, jika hanya karena sebuah kepentingan, maka pengkhianatan itu pasti ada, kepercayaan itu akan sia-sia. Maka, bangunlah ikatan, hanya karena-Nya. Maka kesetiaan mereka tiada tara, bukan karena uang dan perlindunganmu, tapi karena ia taat pada-Nya.

Novel ini menggambarkan, di dunia ini, setiap orang selalu punya sandaran, tempat ia Pulang, sekuat apapun kita. Tempat Pulang itu adalah bekal semangat, tempat Pulang itu adalah rumah, tempat kembali kala kita jatuh tanpa tahu bagaimana caranya berdiri lagi. Dan sebaik-baik tempat Pulang adalah Dia. Yang Maha Hidup dan selalu ada di setiap kondisi.

Merdeka yang ke-72 (?)

images

Di tengah hiruk pikuk hari kemerdekaan negeri yang ku cinta ini. Ada jutaan tanya tentang “apa yg telah kulakukan untuknya?” sebab banyak yang berbicara “jangan tanyakan apa yang dilakukan negara untukmu, tapi tanyakan pada dirimu, apa yang telah kamu lakukan untuknya?”

 

 

Apakah definisi cinta pada negeri ini? Apakah dengan mengikuti upacara kemerdekaan sudah dikatakan cinta? Apakah dengan mengikuti rangkaian acara kemerdekan sudah dikatakan cinta? apakah dengan mengucapkan “dirgahayu negeriku” sudah dikatakan cinta??

Bukankah cinta butuh pembuktian dengan tindakan?

Apakah definisi warga negara yang baik?

Apakah hanya dengan bersikap jujur sudah bisa dikatakan sebagai warga negara yang baik?

Apakah dengan menjadi pelajar yang baik?
Apakah dengan tidak narkoba ?
Apakah dengan taat pada peraturan lalu lintas adalah warga negara yang baik?

Apakah aparat negara sudah ‘otomatis’ menjadi warga negara yang baik?
Presiden dan jajarannya?
Anggota DPR ?

Baca lebih lanjut

[Opini] Ajang Nona Muslimah

Dan sejak dahulu kala. Aku memang ragu dengan definisi cantik mereka. Jika cantik hanya didefinisikan bentuk dan rupa tubuh, di mana letak keadilan Allah bagi mareka yang katanya ‘tak bagus’ rupanya.

My World is My Fairytale

Apa definisi kecantikan menurut kalian?

Mayoritas orang akan menjawab bahwa kecantikan itu relatif. Seorang istri akan dianggap tercantik di mata suaminya. Orang korea menganggap cantik adalah ketika memiliki double eyelid. Orang eropa menganggap cantik adalah berkulit gelap. Ada yang mengatakan bahwa cantik itu tinggi, putih, langsing. Kriteria rambut pun bermacam-macam?

Lihat pos aslinya 1.054 kata lagi

Dia | Ikhlaskah ?

Aku pernah bertanya kepada seorang teman

“Dia, kok kamu ga pernah upload foto-foto kamu di sosmed sih ?”

“foto selfie gitu?”

“Yaa, bukan gitu juga. Foto-foto kegiatan kamu sehari-hari. Kamu kan sering ikut kegiatan ini itu, ketemu orang hebat, atau ke tempat-tempat bagus kayak gunung gitu”

“gak ah”

“Lah kenapa? Kan kali aja bisa menginspirasi”

“Iyasih, tapi masalahnya aku ga tau, itu menginspirasi, atau bagian dari hatiku yang maunya pamer”

“Oh, hehe”

__________________________________ Baca lebih lanjut

“Gue, Gitu Lho!”

Hati-hati ujub, astaghfirullah

O. Solihin

gaulislam edisi 488/tahun ke-10 (30 Jumadil Awal 1438 H/ 27 Februari 2017)

Hati-hati lho, antara percaya diri yang berlebihan dengan sombong itu beda tipis. Di medsos kamu memang bisa melakukan apapun yang kamu suka. Tetapi, harap diingat bahwa apa yang kamu sebar berupa tulisan, kata, gambar, dan suara akan memberi dampak bagi kamu dan juga orang yang menerima pesan kamu. Jika kita merasa bahwa apa yang kita sebar itu bermanfaat, jangan pula pada akhirnya kita jadi ngerasa paling berjasa, lalu menepuk dada sambil bilang, “gue, gitu lho!” Wah! (berharap pula ada decak kagum dari orang yang baca status kita). Hmm…

Sobat gaulislam, citra diri seseorang bisa dibangun dengan berbagai cara, termasuk melalui medsos. Sarana ini bisa menjadi peluang membangun brand image seseorang di hadapan orang lain. Sama seperti di dunia nyata. Itu sebabnya, kudu hati-hati. Jangan sampe nggak ikhlas. Jangan sampe wara-wiri di medsos karena kita mengejar popularitas dan berharap…

Lihat pos aslinya 960 kata lagi

Kemana Doa-doa Bermuara?

berbenahlah, allah ingin kita selalu dekat 🙂

Write The Universe

d702f04d86a0c229653b64e746d9fcae

Hari pertama di bulan Maret. Apa kabar? Sudah empat bulan rupanya aku tak pulang ke sini. Bukan tak ada yang akan ditulis tetapi dunia nyata tampaknya lebih menarik untuk “ditulis”.

Empat bulan bukan waktu yang singkat karena ada doa-doa yang selalu dirapalkan dan menunggu untuk dikabulkan. Memang tak selalu doa-doa dijawab secepat itu. Bahkan Allah sepertinya tak selalu berfokus pada apa-apa yang ingin kita capai. Dia ingin melihat kesungguhan dan kesabaran kita untuk tetap berdoa tanpa henti dan ragu serta hanya bersandar pada-Nya. Dengan kata lain, Dia menginginkan kedekatan itu terus berlanjut hingga kita tak lagi berfokus pada capaian-capaian kita tetapi justru menikmati saat-saat bersama-Nya. Bukankah itu sangat syahdu?

Sangat gampang bagi Allah untuk mengabulkan semua permintaan. Terkadang manusia memang egois karena seringkali hanya ingat akan keinginannya tapi lupa pada pemberi nikmat itu setelah didatangkan. Sangat tidak berterima kasih dan bersyukur. Untuk itu, kita memang harus selalu berpikir akan hal-hal…

Lihat pos aslinya 200 kata lagi

Sultanan Nashiro, Kekuasan yang Menolong

FARID WADJDI

Kondisi umat Islam sekarang memang sangat memperhatikan. Persis seperti yang pernah diingatkan Rosulullah SAW kepada umatnya,“Akan datang kepada kalian masa yang penuh dengan tipudaya; ketika orang-orang akan mempercayai kebohongan dan mendustakan kebenaran. Mereka mempercayai para pengkhianat dan tidak mempercayai para pembawa kebenaran. Pada masa itu, ruwaibidhah akan berbicara.” Mereka bertanya, “Apakah itu ruwaibidhah?” Rasulullah berkata, “Ruwaibidhah adalah orang-orang bodoh (yang berbicara) tentang urusan umat.” (HR Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra.).

Zaman penuh tipu daya ini, sangat jelas di depan mata. Berbagai makar dilakukan untuk menyerang umat. Umat yang bersatu atas dasar keimanan mereka dalam Aksi Bela Islam dituduh mengancam negara, menggerus kebhinekaan, berpotensi radikal yang berujung teroris dan tudingan-tudingan keji lainnya. Ulama dan tokoh-tokoh umat yang berada di garis depan dalam Aksi Bela Islam dikriminalisasi,  disasar satu-satu. Dicari-cari kesalahannya hingga sampai ke lubang semutpun.

Dalam kondisi seperti ini, para pengkhianat yang sesungguhnya menghancurkan negara, tampak bagaikan pahlawan pembela tanah air…

Lihat pos aslinya 567 kata lagi